NAVIGASI DARAT
Navigasi darat
Penadahuluan
Dalam
melakukan perjalanan di alam bebas, khususnya di pegunungan dan hutan belantara
kita dituntut untuk memiliki kemampuan bernavigasi agar memudahkan kita dalm
melakukan perjalanan sehingga kita dapat terhindar dari kemungkinan buruk (tersesat)
saat berpetualang di alam bebas.
Pengertian
Navigasi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata navis yang artinya perahu atau kapal dan agake yang artinya
mengarahkan, secara harafiah artinya mengarahkan sebuah kapal dalam pelayaran.
Dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan jaman kata ‘navigasi’ tidak
lagi hanya digunakan dalam dunia maritime tetapi sering juga digunakan di
daratan dan udara.
Navigasi adalah cara menentukan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya maupun pada peta.
Navigasi adalah cara menentukan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya maupun pada peta.
Kompas
Kompas
adalah peralatan yang paling dikenal dan paling populer didunia sebagai alat
penunjuk arah. Kompas mempunyai jarum yang selalu menunjukan arah utara (utara
kompas). Kompas berbentuk bulat dan mempunyai 32 arah mata angin dengan garis
pembagi derajat dari 0° sampai 359°. Arah yang ditunjukan oleh jarum kompas
disebut arah medan magnet bumi, bukan arah kutub yang sebenarnya.
Bagian bagian kompas
1. Jarum Kompas
Jarum kompas merupakan bagian yang terpenting pada sebuah kompas. Jarum ini dibuat dengan menggunakan magnet, agar jarumpada kompas tidak berkarat gunakan cairan bening atau yang disebut juga cairan antistatic. Pada umumnya juga jarum kompas dilapisi dengan fosfor agar bisa terlihat disituasi yang gelap.
Jarum kompas merupakan bagian yang terpenting pada sebuah kompas. Jarum ini dibuat dengan menggunakan magnet, agar jarumpada kompas tidak berkarat gunakan cairan bening atau yang disebut juga cairan antistatic. Pada umumnya juga jarum kompas dilapisi dengan fosfor agar bisa terlihat disituasi yang gelap.
2. Piringan Derajat
Didalam kompas ada lingkaran yang terdiri atas garis-garis dan dikenal dengan garis pembagi skala derajat, cara membacanya di mulai dari arah utara berputar searah jarum jam.
Didalam kompas ada lingkaran yang terdiri atas garis-garis dan dikenal dengan garis pembagi skala derajat, cara membacanya di mulai dari arah utara berputar searah jarum jam.
3. Skala Piringan Derajat.
Ada bermacam-macam skala piringan derajat. Pembagian derajat International atau standarnya adalah seperti sudut lingkaran yaitu 360°. Kompas militer mempunyai skala 6.000’ : 6.300’ atau 6.400’.
Ada bermacam-macam skala piringan derajat. Pembagian derajat International atau standarnya adalah seperti sudut lingkaran yaitu 360°. Kompas militer mempunyai skala 6.000’ : 6.300’ atau 6.400’.
4. Rumah Kompas
Merupakan tempat dari bagian-bagian kompas. Didalam rumah kompas juga diberi cairan bening untuk membuat jarum kompas bekerja lebih baik juga sebagai anti karat berfungsi juga melindungi kompas terutama dari suhu antara -4° C sampai 50° C, sehingga dalam rentang suhu tersebut kompas masih dapat bekerja dengan sempurna.
Merupakan tempat dari bagian-bagian kompas. Didalam rumah kompas juga diberi cairan bening untuk membuat jarum kompas bekerja lebih baik juga sebagai anti karat berfungsi juga melindungi kompas terutama dari suhu antara -4° C sampai 50° C, sehingga dalam rentang suhu tersebut kompas masih dapat bekerja dengan sempurna.
Jenis kompas
1. Kompas bidik
Kompas bidik adalah kompas yang berfungsi untuk membidik atau menembak sudut pada alam atau bentangan alam sebnearnya, yang kemudian sudut tersebut dapat di proyeksikan pada peta.
Kompas bidik adalah kompas yang berfungsi untuk membidik atau menembak sudut pada alam atau bentangan alam sebnearnya, yang kemudian sudut tersebut dapat di proyeksikan pada peta.
2. Kompas silva
Kompas ini sering disebut juga Kompas Orientasi karena kemudahan penggunaannya untuk orientasi di lapangan (medan). Kompas ini memiliki tanda panah penyesuai yang terdapat di dasar piringan kompas, dan dilengkapi pula dengan cermin. Selain itu disekitar piringan kompas terdapat konektor dan penggaris. Walaupun kompas ini kurang akurat jika dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu dalam pembacaan dan perhitungan di peta.
Kompas ini sering disebut juga Kompas Orientasi karena kemudahan penggunaannya untuk orientasi di lapangan (medan). Kompas ini memiliki tanda panah penyesuai yang terdapat di dasar piringan kompas, dan dilengkapi pula dengan cermin. Selain itu disekitar piringan kompas terdapat konektor dan penggaris. Walaupun kompas ini kurang akurat jika dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu dalam pembacaan dan perhitungan di peta.
Orientasi
peta
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan
sebenarnya. Untuk keperluan ini kita perlu mengetahui tanda-tanda medan yang
ada di lokasi dan mencocokanya dengan kontur yang ada di peta.
Langkah-langkah orientasi pada peta
:
1. Cari
tempat yang terbuka untuk melihat tanda-tanda medan yang mencolok (dapat
dikenali).
2. Letakan
peta pada bidang datar
3. Samakan
utara peta dengan utara kompas, sehingga peta sesuai dengan bentang alam yang
ada
4. Cari
tanda-tanda medan dilokasi dan himpitkan dengan tanda medan yang ada di peta (
seperti jalan raya, sungai,dll)
Azimuth
dan back azimuth
Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara
dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik
sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan
sebagai azimuth.
Ada tiga macam azimuth, yaitu:
1.
Azimuth Sebenarnya,yaitu besar sudut
yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran.
2.
Azimuth Magnetis,yaitu sudut yang
dibentuk antara utara kompas dengan titik sasaran.
3.
Azimuth Peta,yaitu besar sudut yang
dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.
Sedangkan back azimuth adalah kebalikan dari azimut, yaitu besar
sudut yang didapat dari arah medan atau objek yang dibidik ke posisi tempat
seseorang melakukan ploting atau membidik.
Rumus untuk mendapatkan azimuth dan
back azimuth
Jika azimuth yang kita peroleh
lebih dari 180º maka back azimuth adalahazimuth dikurangi 180º. Misal anda
membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º.Back azimuthnya adalah 200º - 180º
= 20º• Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya
adalah180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak,
diperolehazimuth 160º, maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º
Resection
Prinsip resection adalah menentukan posisi kita dipeta
dengan menggunakan duaatau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling
tidak membutuhkan dua tandamedan yang terlihat jelas dalam peta dan dapat
dibidik pada medan sebenarnya(untuk latihan resection biasanya dilakukan
dimedan terbuka seperti kebun tehmisalnya, agar tanda medan yang ekstrim
terlihat dengan jelas).Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua,
tapi posisinya sudah pasti.
Langkah-langkah
melakukan resection:
1.
Lakukan orientasi peta
2.
Cari tanda medan yang mudah dikenali
di lapangan dan di peta, minimal 2 buah tanda medan.
3.
Dengan busur dan penggaris, buat
salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut(untuk alat tulis paling ideal
menggunakan pensil mekanik-B2).
4.
Bidik tanda-tanda medan tersebut
dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik.
5.
Pindahkan sudut back azimuth bidikan
yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap
tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.
6.
Perpotongan garis yang ditarik dari
sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipet.
Intersection
Prinsip intersection
adalah menentuka posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau
lebih tanda medan yang dikenali dilapangan.
intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai atau tidak diketahui posisinya di peta.
Sebelum melakukan intersection kita harus telah memastikan dulu posisi kita di peta.
Dan biasanya kita telah melakukan resection terlebih dahulu
intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai atau tidak diketahui posisinya di peta.
Sebelum melakukan intersection kita harus telah memastikan dulu posisi kita di peta.
Dan biasanya kita telah melakukan resection terlebih dahulu
Langkah langkah melakukan
intersection:
1.
Lakukan orientasi peta.
2.
Lakukan resection untuk memastikan
posisi kita di peta.
3.
Bidik obyek yang kita amati.
4.
Pindahkan sudut yang didapat ke
dalam peta.
5.
Bergerak ke posisi lain dan tentukan
posisi tersebut di peta, lalu lakukan langkah 1-3.
6.
Perpotongan garis perpanjangan dari
dua sudut yang didapat adalah posisiobyek yang dimaksud.
Peta
Secara umum peta terbagi 3 jenis,
yaitu:
1. Peta topografi, yaitu peta yang menggambarkan
permukaan bumi lengkap dengan reliefnya. Penggambaran relief permukaan bumi ke
dalam peta digambar dalam bentuk garis kontur. Garis kontur adalah garis pada
peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian yang sama.
- Peta korografi, yaitu peta yang menggambarkan seluruh atau sebagian permukaan bumi yang bersifat umum, dan biasanya berskala sedang. Contoh peta korografi adalah atlas.
- Peta dunia, yaitu peta umum yang berskala sangat kecil dengan cakupan wilayah yang sangat luas.
Pada saat
melakukan navigasi (khususnya navigasi darat) kita menggunakan peta topgrafi.
dan dikesempatan ini penulis hanya membahas khusus peta topografi
dan dikesempatan ini penulis hanya membahas khusus peta topografi
Peta
topografi
Peta adalah gambaran dari permukaan bumi yang diperkecil
dengan skala tertentu sesuai dengan kebutuhan. Peta digambarkan di atas bidang
datar dengan sistem proyeksi tertentu. Peta yang digunakan untuk kegiatan alam
bebas adalah Pete Topografi.
Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang
datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang terlihat dari atas dare
diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan
secara proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa
diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi
digambarkan dalam bentuk Garis‑Garis Kontur.
Beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan peta topografi yaitu:
1. Judul
Peta
Adalah identitas yang tergambar pada
peta, ditulis nama daerah atau identitas lain yang menonjol.
2. Keterangan
Pembuatan
Merupakan
informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di bagian kiri
bawah dari peta.
3. Nomor
Peta (Indeks Peta)
Adalah angka yang menunjukkan nomor
peta. Dicantumkan di bagian kanan atas.
4. Pembagian
Lembar Peta
Adalah
penjelasan nomor‑nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang digunakan,
bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan interpretasi suatu
daerah yang lebih luas.
5. Sistem
Koordinat
Adalah perpotongan antara dua garis
sumbu koordinat. pembagian koordinat adalah:
a.
Koordinat
Geografis
Sumbu
yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan garis
lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis lintang
dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co 120° 32′
12″ BT 5° 17′ 14″ LS.
b.
Koordinat
Grid
Perpotongan
antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid. Kedudukan suatu
titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke utara dan barat
ke timur dari titik acuan.
c.
Koordinat
Lokal
Untuk
memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat dibuat
garis‑garis faring seperti grid pada peta.
Skala
bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta.
Kedua sistern koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional.
Namun dalam pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat
dibuat sederhana atau tidak dibaca seluruhnya.
Misal:
72100 mE dibaca 21, 9° 9700 mN dibaca 97, dan lain‑lain.
6. Skala
Peta
Adalah
perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan atau
lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan
JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI
MEDAN
Penulisan skala peta biasanya
ditulis dengan angka non garis (grafis).
Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1
cm di peta sama dengan 25 m di medan yang sebenarnya.
7. Orientasi
Arah Utara
Pada
peta topografi terdapat tiga arah utara yang harus diperhatikan sebelum
menggunakan peta dan kompas, karena tiga arah utara tersebut tidak berada pada
satu garis. Tiga arah utara tersebut
adalah:
a.
Utara Sebenarnya (True North/US/TN)
diberi simbol * (bintang), yaitu
utara
yang melalui Kutub Utara di Selatan Bumi.
b.
Utara Peta (Grid Nortb/UP/GN) diberi
simbol GN, yaitu Utara yang sejajar
dengan
garis jala vertikal atau sumbu Y. Hanya ada di peta.
c.
Utara Magnetis (Magnetic North/UM)
diberi simbol T (anak pariah
separuh),
yaitu Utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas. Utara magnetis selalu mengalami
perubahan tiap tahunnya (ke Barat atau ke Timur) dikarenakan oleh pengaruh
rotasi bumi. Hanya ada di medan.
8. Garis
Kontur atau Garis Ketinggian
Garis kontur adalah gambaran bentuk
permukaan bumi pada peta topografi.
Sifat‑sifat
garis kontur, yaitu:
a.
Garis kontur merupakan kurva
tertutup sejajar yang tidak akan memotong satu
sama
lain dan tidak akan bercabang.
b.
Garis kontur yang di dalam selalu
lebih tinggi dari yang di luar.
c.
Interval kontur selalu merupakan
kelipatan yang sama
d.
Indek kontur dinyatakan dengan garis
tebal.
e.
Semakin rapat jarak antara garis
kontur, berarti semakin terjal Jika garis kontur bergerigi (seperti sisir) maka
kemiringannya hampir atau sama dengan 90°.
f.
Pelana (sadel) terletak antara dua
garis kontur yang sama tingginya tetapi terpisah satu sama lain. Pelana yang
terdapat diantara dua gunung besar dinamakan PASS.
9.
Titik Triangulasi
Selain
dari garis‑garis kontur dapat pula diketahui tinggi suatu tempat dengan
pertolongan titik ketinggian, yang dinamakan titik triangulasi Titik
Triangulasi adalah suatu titik atau benda yang merupakan pilar atau
tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut.
Macam‑macam titik triangulasi:
a.
Titik Primer, I’. 14 , titik
ketinggian gol.l, No. 14, tinggi 3120 mdpl. 3120
b.
Titik Sekunder, S.45 , titik
ketinggian gol.II, No.45, tinggi 2340 rndpl. 2340
c.
Titik Tersier, 7: 15 , titik
ketinggian gol.III No. 15, tinggi 975 mdpl 975
d.
Titik Kuarter, Q.20 , titik
ketinggian gol.IV, No.20, tinggi 875 mdpl. 875
e.
Titik Antara, TP.23 , titik
ketinggian Antara, No.23, tinggi 670 mdpl. 670
f.
Titik Kedaster, K.131 , titik
ketinggian Kedaster, No.l 31, tg 1202 mdpl. 7202
g.
Titik Kedaster Kuarter, K.Q 1212,
titik ketinggian Kedaster Kuarter, No. 1212, tinggi 1993 mdpl. 1993
10. Legenda Peta
Adalah
informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta, berupa unsur yang dibuat
oleh manusia maupun oleh alam. Legenda peta yang penting
untuk dipahami antara lain:
a.
Titik ketinggian
b.
Jalan setapak
c.
Garis batas wilayah
d.
Jalan raya
e.
Pemukiman
f.
Air
g.
Kuburan
h.
Dan Lain‑Lain
Membaca
garis kontur
1.
Punggungan Gunung
Punggungan gunung merupakan
rangkaian garis kontur berbentuk huruf U, dimana Ujung dari huruf U
menunjukkan ternpat atau daerah yang lebih pendek dari kontur di atasnya.
2.
Lembah atau sungai
Lembah atau sungai merupakan
rangkaian garis kontur yang berbentuk n (huruf V terbalik) dengan Ujung
yang tajam.
3.
Daerah landai datar dan terjal curam
Daerah
datar/landai garis kontumya jarang jarang, sedangkan daerah terjal/curam garis
konturnya rapat.
Utara
peta
Setiap kali menghadapi peta topografi, pertama‑tama carilah
arah utara peta tersebut. Selanjutnya lihat Judul Peta (judul peta selalu berada
pada bagian utara, bagian atas dari peta). Atau lihat tulisan nama gunung atau
desa di kolom peta, utara peta adalah bagian atas dari tulisan tersebut.
Mengenal
tanda medan
Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk
keperluan
orientasi harus juga digunakan bentuk‑bentuk bentang alam
yang mencolok di lapangan dan mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan.
Beberapa tanda medan yang dapat
dibaca pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:
1.
Lembah antara dua puncak
2.
Lembah yang curam
3.
Persimpangan jalan atau Ujung desa
4.
Perpotongan sungai dengan jalan
setapak
5.
Percabangan dan kelokan sungai, air
terjun, dan lain‑lain.
Untuk daerah yang datar dapat
digunakan:
1.
Persimpangan jalan
2.
Percabangan sungai, jembatan, dan
lain‑lain.
2. Percabangan sungai, jembatan, dan lain‑lain.
Menggunakan
peta
Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta
topografi, sudah
tentu titik awal dan titik akhir akan diplot di peta.
Sebelurn berjalan catatlah:
1.
Koordinat titik awal (A)
2.
Koordinat titik tujuan (B)
3.
Sudut peta antara A ‑ B
4.
Tanda medan apa saja yang akan
dijumpai sepanjang lintasan A ‑ B
5.
Berapa panjang lintasan antara A ‑ B
dan berapa kira‑kira waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A ‑B.
.
Yang perlu diperhatikan dalam
melakukan suatu operasi adalah:
1.
Kita harus tahu titik awal
keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta.
2.
Gunakan tanda medan yang jelas balk
di medan dan di peta.
3.
Gunakan kompas untuk melihat arah
perjalanan kita, apakah sudah sesuai dengan tanda medan yang kita gunakan
sebagai patokan, atau belum.
4.
Perkirakan berapa jarak lintasan.
Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60 menit dan medan mendaki ditempuh
selama 10 menit.
5.
Lakukan orientasi dan resection,
bila keadaannya memungkinkan.
6.
Perhatikan dan selalu waspada
terhadap adanya perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan. Misalnya
dari pnggungan curam menjadi punggungan landai, berpindah punggungan,
menyeberangi sungai, ujung lembah dan lain‑lainnya.
7.
Panjang lintasan sebenarnya dapat
dibuat dengan cara, pada peta dibuat lintasan dengan jalan membuat garis (skala
vertikal dan horisontal) yang disesuaikan dengan skala peta. Gambar garis
lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan kemiringan lintasan juga penampang
dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya dengan skala
peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.
(ZOMEN GPL.128.KH.XVII.11)
Komentar
Posting Komentar